Isu-Isu Kontemporer yang ada di Tubuh Nahdlotul Ulama’


Isu-Isu Kontemporer yang ada di Tubuh Nahdlotul Ulama’
Oleh : Syamsulhadi.
ulama' NU

Nahdlotul ulama merupakan ormas islam terbesar di Indonesia yang lahir pada 13 rojab 1344 H tepatnya pada tangggal 31 Januari 1926. Yang didirikan oleh KH. Hayim Asy’ari, proses berdirinya Nahdlotul ulama’ bukan hanya semata-mata berdiri tetapi juga hasil istiqoroh KH. Hasyim Asy’ari sehingga begitu manatab, tanpa keraguan untuk mendirikan jam’ah atau organisasi Nahdlotul ulama’.
Latar belakang berdiri
Ada banyak factor yang melatarbelakangi berdirinya Nahdlotul ulama’ salah satunya yaitu berkembangnya pemikiran Islam di timur tengah setelah runtuhnya sayid Husen dan berdirinya kerajaan Saudi yang dipimpin oleh Muhammad bin saud serta muftinya yang bernama Muhammad bin abdul wahab ia yang melarang kebebasan bermadzhab, dengan dalih ingin memurnikan ajaran islam serta mengharamkan ziarah kubur bahkan ingin mennggusur makam Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu Nahdlotu ulama’ berdiri dengan keadaan yang mendesak.
Akidah-Akidah NU
Nahdlotul ulama’ dalam hal teologi atau keyakinan ala ahlusunnah wal jama’ah, merupakan pola fikir yang mengambil jalan tengah (tawasuth) tidak ekstrim kanan maupun ekstrim kiri, oleh karena itu sumberhukum islam Nu bukan hanya Al-Qur’an dan Hadist, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah denagn realitas empirik.  Cara berfikir seperti itu dirujuk oleh pemikiran terdahulu seperti Abu al-Hasan al-Asy’ary dan Abu Mansur al-Muturidi dalam bidang teologi atau tauhid ketuhanan. Kemudian dalam bidang fikih lebih cenderung mengikuti  madzhab Imam Syafi’I dan mengikuti tiga madzhab yang lain yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambing NU berbintang empat di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf mengikuti dan mengembangkan metode tasawuf syeh Junaid al-Baghdadi dan Imam Al-Ghozali yang mengitregrasikan antara tasawuf dan Syari’at.
Arah Juang NU
Dalam hal pemikiran gagasan arah juang NU merumuskan lima hal yaitu :  Tasamuh, tawasut, tawazun, I’tidal dan amar ma’ruf Nahimunkar. Maka dari itu  arah juang NU berlandaskan Tasamuh (saling menghormati ) tawasuth (moderat, jalan tengah, tidak ekstrimkanan maupun kiri) tawazun (seimbang, seimabang dalam arti, habluminallah dan habluminannas harus berelasi dengan baik serta dalam hal keilmuan pemahaman ilmu agama dan ilmu umum harus seimbang), I’tidal (tegak lurus, konsisten dalam hal menegak kan  kebenaran),  kemudian Amar Ma’ruf Nahi munkar ( menyerukan kebaikan dan melarang kemungkaran ).
NU dan Politik
Sekrang bagaimana arah politik NU? Nahdlotu ulama’ dahulu pernah terjun di politik praktis karena pada saat itu dinamika politik yang carut marut. Setelah Nu memisahkan diri dari Masyumi, NU pada tahun 1952 menjadi partai Politik dan kemudian mengikuti pemilu di tahun 1955. Dan ahirnya Nu sebagai partai politik cukup berhasil karena NU meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstitusi. Pada masa demokrasi terpimpin NU dikenal dengan partai pendukung Soekarno dan bergabung dalam NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis). Selanjutnya pada Mu’tamar NU di Situbondo, NU menyatakan diri untuk kembali ke Khitah 1926 yaitu untuk tidak politik praktis lagi. Tetapi NU lebih mengedepankan Politik kebangsaan yaitu Politik cinta tanah air.
OPINI.
Menyikapi Problem-Problem NU
            Setiap organisasi besar, semakin besar dan semakin tinggi organisasi, tak luput dari desas-desus angin kencang menghantamnya bahkan sampai petir pun menyambar-nyambar, banyak caci dan makian, fitnah dan tudingan yang menusuk di jantung NU. Pada awal tahun duaribuan ada kelompok yang semakin kencang menyerang NU tepatnya menyerang pada bagian amaliyahnya dengan memfatwakan bahwa amaliyah yang dijalankan NU seperti Tahlilan, Sholawatan, Haul itu Bid’ah, Syirik, sesat dan sebagainya. Tetapi serangan itu tidak mempan bagi NU, justru NU semakin besar dan jaya. Serangan itu tidak berhenti begitu saja pada tahun selanjutnya hingga saat ini NU pun semakin gencar diserang, dahulu diserang dibagian amaliyahnya, tetapi pada saat ini NU diserang tepat pada wadahnya dengan menuduh NU Liberal, Syi’ah dan sebagainya. Walaupun tuduhan itu sudah diklarifikasi teteap saja NU dicaci maki dan dibenci sehingga ada sebuah kelompok lagi yang membuat NU tandingan yang mengatas namakan NU garis lurus. Menegnai NU garis lurus, munculnya yaitu atas latar belakang tidak sepakatnya pemikiran diantara tokoh NU, tetapi saya tidak bisa komentar terhadap masalah itu. Karena maslah itu merupakan masalah antara ulama’.
Tetapi dalam menyikapi hal semacam itu, mari kita tengok lagi dinamika perjalanan pemimpin NU. Kita urutkan NU zaman KH said aqil siradj samapi ke Mbah hasyim Asy’ary. Pada masa KH. Said aqil siradj, pimpinanya dituduh syiah, liberal sesat dan kafir. NU zaman  KH Hasyim Muzadi, kyai yang secara khusus mendampingi jokowi saat umroh beberapa hari menjelang pencoblosan capres 2014 ini juga dituduh syi’ah karena pembelaanya terhadap nuklir iran. Masa kepemimpinanya banyak mengirimkan mahasiswa ke iran. NU pada zaman gus dur dituduh Sy’ah, Liberal dan lain-lain, karena gus dur menjalin hubungan denagn Israel yang notabeneya asalah kaum yahudi. NU pada masa KH. Ahmad sidiq  dituduh keislamanya goyah karena menerima pancasila sebaga asas tunggal. NU zaman KH. Bisri Sansuri dituduh takut kepada pemimpin yang zolim karena justru memberhentikan kyai Subhan ZE pengurus PBNU yang paling vocal mengkritik orde baru. NU pada masa Kyai Wahab habulloh dituduh PKI karena menerima NASAKOM. NU pada masa Mbah Hasyim Asy’ary dituduh pro penjajah Jepang karena tidak ada seruan apalagi seruan pembelaan terhadap pembrontakan terhadap kyai Zainul Mustofa. Serta memerintah rakyat menanam padi yang pada ahirnya padi digunakan oleh penjajah Jepang.
Pada paparan sejarah tadi, soal pendapat dan kyakinan saya kembalikan ke hati masing-masing. Kalau orang bijak mestinya tidak berani mengkritik kyai NU bahkan mencaci maki, karena semua persoalan itu biasa dikalangan para Ulama’, pada sa’at itulah esensi ahlussunah wal jama’ah itu Nampak, yang mana wal jama’ahnya itu menyatukan dan mendamaikan ulama’ walaupun beda pendapat.
 Pada kesimpulanya NU zaman dahulu hingga sekarang orang-orang yang mulai ngomongin NU sekalipun mengaku NU, Insya allah dapat barokah. Kedua yang membenci NU  yang menggrogoti  martabat NU insya allah akan sirna dengan sendirinya.
Mbah hasyim pernah mengatakan “ sopo wonge seng gelem ngurusi NU tak anggep santriku. Sopo wonge seng gelem dadi sntriku tak dongak ne matine khusnul khotimah “ yang artinya barang siapa yang mau mengurusi NU saya anggap santriku, barangsiapa yang menjadi santriku saya doakan meninggalnya dengan keadaan khusnul khotimah.
 Ditengah desas desus fitnah yang menjala di tubuh NU tetapi tidak menggoyahkan hati kita Semoga dengan khitmat kita terhadap NU terlebih ta’dzim kita terhadap kyai NU senantiasa mendapatkan barokah dan bisa memudahkan kita hidup didunia dan diahirat lantaran doa dan barokahnya para kyai yang merupakan warisanya para nabi, terlebih nabi junjungan kita Nabi Muhammad SAW./

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menelisik kesenian Gong Gumbeng yang ada di Kecamatan Sambit Ponorogo

pemuda masadepan bangsa