Menelisik kesenian Gong Gumbeng yang ada di Kecamatan Sambit Ponorogo


Ayam berkokok saling bersautan dengan merdunya memecahkan keheningan, aku membuka mata berlahan-lahan, mengundang kesadaran dari tidur yang terlelap. Segera melangkahkan kaki untuk membersihkan tubuhku dengan air hangat, kemudian selesai kubersihkan aku sedikit bersolek. Mengingat hari ini merupakan hari dimana aku akan bertemu dengan Staff Kecamatan Sambit Kabupaten Ponorogo untuk menggali informasi tentang Gong Gubeng salah satu kesenian dari Ponorogo.

Selesai berkemas kubergegas menaiki motor, merapikan helm kemudian motorkunyalakan, aku bergegas pergi melaju dengan cukup kencang, aku berangkat dari Madiun ke Ponorogo, perjalanan 1 jam cukup jauh karena setiap harinya kadang pulang pergi untuk melanjutkan studyku di Perguruan tinggi.1 jam berlalu tibalah disuatu warung kopi dimana aku janjian sama teman untuk bertemu, kutepiakan motor yang kunaiki, sorot mataku memandangi setiap sudut warung itu, mencari teman Dimana ditempat ini aku janjian untuk bertemu. Ada yang menepuk pundak ku dari belakang sontak aku kaget, ternyata ia temanku yang aku cari-cari tadi, ia datang dengan senyuman yang manis dengan sedikit tertawa. Namanya Siti Umi ia tidak hanya cantik tetapi ia merupakan wanita yang begitu anggun menurutku. " Ayo budal," ujarnya dalam bahasa Jawa yang berarti (Ayo berangkat), aku pun bergegas menyalakan motorku tadi, tanpa basa basi ia langsung menaiki jok belajangku, aku dengannya berboncengan kemudian secara spontan tanganku mengeras motor yang kunaikan.

Selama 30 menit aku berangkat dari kampus Iain Ponorogo menuju kecamatan Sambit. Setelah tiba dari kantor kecamatan Sambit, jumlalah dengan bapak Darmoko salah satu Staff dari kecamatan Sambit sekaligus seniman dari gong gumbeng itu tadi. Akupun memulai menanyakan tentang sejarah dari kesenian Gong Gumbeng itu tadi " Bagaimana sih pak sejarah dari Gong Gumbeng itu sendiri?, " Tanyaku. Kemudian Bapakpun menjawab bahwa gong gumbeng itu ada sejak 4 abad yang lalu yang dibawakan bangsawan dari kerajaan Mataram yang bernama Ki Iro biro, kesenian Gong gumbeng dimulai, saat desa Wringin Anom diterpa suatu kesulitan bahasa jawanya Pagebluk, kemudian Ki Iro biri memberikan usulan kepada tokoh yang diagungkan kala itu dan mendapatkan persetujuan l, Ki Iro biri mengawali kesenian itu dan diikuti warga Wringinanom, setelah diadakan acara itu warga desa menjadi makmur kembali dan Pagebluk yang pernah menimpanyapun menghilang.

Setelah mendengar cerita dari beliau saya pun kembali bertanya " Eksistensi dari Gong Gubeng sendiri apakah sama kuat nya sama Reog Ponorogo, yang mana kesienian dari Ponorogo yang sudah mendunia? " Tanyaku. Kemudian beliau menjawab bahwa mengenai eksistensi secara menyeluruh diponorogo Gong gumbeng tidak menonjol seperti Reog Ponorogo tetapi kalau didesa Wringinanom tetap lestari bahkan setiap Jum'at pemuda-pemudi mengadakan latihan Gong gumbeng dan setiap Jum'at terahir pada bulan Selo (Bulan Jawa) mengadakan pagelaran Gong Gubeng di Desa Wringinanom. disela-sela kami berbincang-bincang teh hangat pun tiba, yang langsung dibawakan salah satu karyawan yang ada di kantor kecamatan, ia menyajikan teh dengan ramahnya, dan menambah kehangatan kami saat berbincang-bincaang sehangat teh yang diberikan.

Kemudian saya melanjutkan pertanyaan yang berikutnya " Bagaimana pak, antusiasme Masyarakat terutama anak muda dalam melestarikan kesenian Gong Gumbeng itu sendiri? " Tanyaku. Kemudian ia menjawab bahwa tingkat antusiasem anak muda bisa dikatakan kurang, karena seiring berkembangnya modernisasi anak muda cenderung memilih hal-hal yang kekinian dari pada Gong Gumbeng. " Kalau tingkat antusiasme anak muda bisa dikatakan kurang mas karena mereka cenderung memilih hal-hal yang kekinian dari pada budaya " Ujarnya.

Tidak terasa sudah 30 Menit kami berbincang-bincang, kami pun menyudahi pertemuan kami, aku dan Umi pun berpamitan. Setelah berbincang binacng akupun menarik kesimpulan bahwa, selama ini dengan berkembangnya modernisasi budaya khas bangsa semakin tertinggal perlunya pelestarian ataupun pengenalan terhadap anak muda mengenai kesenian Gong Gubeng agar kesienian tersebut tetap lestari tidak punah dimakan zaman.

(Kelompok 8, Syamsulhadi, Alfareza)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isu-Isu Kontemporer yang ada di Tubuh Nahdlotul Ulama’

pemuda masadepan bangsa